Jumat, 16 September 2011

HUBUNGAN TASAWUF DENGAN SYARIAT


Hubungan Tasawuf Dengan Syariat (1)
Firman Allah SWT, Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Q.S. Adz Dzariyat 51-56).
Ibnu Abbas menafsirkan ila liya’ buduuni dengan ila liya rifuuni dengan artinya:
“Kecuali supaya mereka mengenal atau makrifah kepada-Ku”.
Sabda Rasulullah SAW (dalam hadist Qudsi), Artinya:
“Adalah AKU suatu perbendaharaan yang tersembunyi, maka AKU ingin supaya diketahui siapa Aku, maka AKU jadikanlah makhluk-Ku, maka dengan Allah mereka mengenal Aku”.
Imam Malik mengatakan,
”Barangsiapa berfikih/bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik (tidak bermoral)
dan barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih/bersyariat, niscaya dia berkelakuan zindiq (menyelewengkan agama)
dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya, maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki, tulen”.
Imam Ali Ad-Daqqaq mengatakan,
”Perlu diketahui bahwa sesungguhnya syariat itu adalah hakikat. Bahwa sesungguhnya syariat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah SWT. Demikian juga hakikat adalah syariat untuk mengenal Allah (makrifat kepada Allah). Hakikat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah. (Al Qusyayri : 412).
Hubungan Tasawuf Dengan Syariat (2)
Secara teknologis Prof. Dr. H.Saidi Syekh Kadirun Yahya menggambarkan hubungan antara tasawuf dan syariat itu sebagai berikut:
“tasawuf adalah jiwa yang memberi power kepada syariat, sedangkan syariat adalah saluran power itu.”
Syariat dilaksanakan oleh anggota dzahir manusia yang mengadakan dan membuka hubungan dengan Allah SWT, sedangkan powernya melalui rohani batin yang datang langsung dari Allah SWT. Ibarat listrik, kabel adalah syariat-syariat lahirnya, sedangkan setrum adalah power melewati kabel yang bersumber dari sentral dynamo. Power itu adalah wasilah yang langsung dari Allah SWT melalui Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW terus bersambung, berantai melalui ahli silsilah, sejak dari Nabi Muhammad SAW, kemudian Abu Bakar Siddiq sampai dengan Syekh Mursyid terakhir. Para Ahli Silsilah atau Syekh Mursyid itu, bukan perantara, tapi wasilah carrier, hamilul wasilah, pembawa wasilah. Orang sufi bukanlah manusia akhirat saja, tapi adalah manusia dunia juga. Dia harus memenuhi fitrah manusiawinya. terutama untuk menjaga lima daruriat untuk tercapainya tujuan syariat Islam, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Melaksanakan aktivitas untuk tercapainya tujuan syariat Islam ini, para sufi juga berkeluarga, bermasyarakat, disamping berubudiyah mencapai makrifah. Untuk menghindari kekeliruan pemahaman tasawuf, bahwa orang sufi itu aktifitasnya hanya dalam artian khusus saja dan tidak beraktifitas dalam syariat muamalah, ini mengacu pada pemikiran-pemikiran hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin” dan “Al Munqiz Minadhalal” serta ulasan-ulasan Dr. Abdul Halim Mahmoud yang mengulas kedua buku tersebut.
Imam Malik RA:
و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
و من جمع بينهما فقد تخقق
“ dia yang sedang Tasawwuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawwuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar . “
Dari muhaddith Ahmad Zarruq (d.899 ) Ahmad Zarruq, Qawa`id al tasawwuf (Cairo, 1310), dan hafiz `Ali al Qari al Harawi (d.1014) Ali al Qari, Sharh `ayn al `ilm wa zayn al hilm (Cairo: Maktabat al Thaqafa al Diniyya, 1989) 1 : 33, muhaddiths `Ali ibn Ahmad al `Adawi (d.1190) Ali al `Adawi , Hashiyat al `Adawi `ala sharh Abi al Hasan li risalat Ibn Abi Zayd al musammat kifayat al talib al rabbani li risalat Ibn Abi Zayd al Qayrawani fi madhhab Maalik (Beirut: Dar Ihya ‘ al Kutub al `Arabiyah , ) 2 : 195 dan Ibn `Ajiba (d.1224) Ibn `Ajiba , Iqaz al himam fi sharh al hikam (Cairo: Halabi , 1392/1972) p.56 .
Imam Syafi’i RA:
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.”
”Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?”
(Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47)
Anda akan menemukan islam yang sebenarnya dalam tasawuf. Tasawuf bukanlah kumpulan orang berjenggot, bersorban, bukanlah selalu dzikir di masjid tapi selalu dzikir selama putaran waktu, dalam tasawuf anda akan menemukan cinta sejati, rindu yang tiada tara. Tasawuf bukanlah kemiskinan dan kefakiran tapi dalam tasawuf anda akan menemukan kekayaan. Tasawuf bukanlah kesyirikan justru anda akan menemukan ke-Esa-an.
Untuk menggapainya perlu guru yang betul, perlu dicari guru yang mengerti tasawuf bukan kulit luarnya tapi keseluruhan.
Dalam belajar ilmu tasawuf ada orang yang mempelajarinya secara matang sehingga benar dalam mengimplementasikannya. Dan ada juga yang tidak matang, sehingga menimbulkan citra negatif saat mengamalkannya. karena dilakukan secara membabibuta.
Tasawwuf bagi Fiqih laksana Ruh untuk jasad”
”Mengamalkan Fiqih tanpa Tasawwuf bagai jasad tanpa Ruh”
”Sedangkan mengamalkan Tasawwuf tanpa fiqih laksana Ruh tanpa jasad
keduanya harus Integra”.



Sumber : madtauhid

0 komentar:

Poskan Komentar

Pilih "Anymous" bila tidak mempunyai Akun Profile dalam pengisian Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More